Aktivis Pecinta Alam Guci Dirikan Dapur Umum Bantu Warga Terdampak PPKM

Aktivis Pecinta Alam Guci Dirikan Dapur Umum Bantu Warga Terdampak PPKM
Sejumlah Aktivis Pecinta Alam Guci mendirikan dapur umum bantu warga yang terdampak PPKM . (foto; Arif)

Tegal, Jnews

Pandemi Covid-19 berdampak di segala sektor, terutama sektor wisata dan kuliner. Tidak sedikit pelaku usaha, baik kecil, menengah bahkan skala besar yang gulung tikar karena tak mampu bertahan ditengah lesunya perekonomian.

Dampak siginifikan juga dirasakan oleh pelaku usaha kuliner di kawasan obyek wisata Guci, Kabupaten Tegal. Penutupan kawasan Guci yang telah dialami selama beberapa bulan kebelakang membuat sebagian pengusaha lebih memilih menutup usahanya akibat tak mampu menutupi biaya operasional.

Seperti halnya Fauzan, wirausaha muda pemilik kedai kopi 'Gubug Shelter' ini saat ditemui wartawan Senin (2/8/2021) menyatakan, dirinya memilih bertahan dengan tetap membuka kedai kopi miliknya. Namun, kedai tersebut bukan untuk menerima tamu penikmat dan pecinta kopi, tapi digunakan menjadi dapur umum yang menyediakan makanan bagi masyarakat sekitar yang terdampak pandemi.

Kedai yang berada tak jauh dari gerbang masuk Obyek Wisata Guci ini biasanya ramai pengunjung. Selain disambangi para pecinta kopi, kedai ini juga banyak dikunjungi para pendaki Gunung Slamet sebagai titik kumpul atau shelter bagi para pendaki.

Lama tutup, Fauzan akhirnya memilih untuk menjadikan kedai kopi miliknya sebagai dapur umum. Bersama belasan relawan lainnya Fauzan menyediakan makanan gratis untuk warga sekitar yang telah dijalaninya sejak pertengahan bulan Juli.

Pendirian dapur umum ini dikatakan Fauzan, berawal karena keprihatinan dirinya dan beberapa rekan melihat kondisi masyarakat sekitar obyek wisata yang sempat mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan makanan.

"Sempat ada informasi bahwa ada dua keluarga yang makan ubi karena tidak memiliki nasi, beberapa warga juga sampai menjual tabung gas hanya sekedar untuk membeli beras. Disitu kami tergerak, beberapa relawan mengumpulkan donasi hingga akhirnya kami putuskan untuk membuka dapur umum guna mensuplai kebutuhan makanan untuk mereka," jelas Fauzan.

Setiap hari sedikitnya 300 porsi makanan diberikan kepada masyarakat sekitar, tiga kali dalam sehari. Fauzan dibantu oleh belasan relawan yang kesemuanya adalah laki-laki yang berbagi tugas mulai dari menyiapkan sayuran, merebus telur, mengolah bumbu, hingga memasak. Fauzan menjelaskan bahwa para relawan ini adalah tenaga-tenaga yang  kerap kali membantu kegiatan sosial di Palang Merah Indonesia (PMI) dan Dinas Sosial.

"Tenaga relawan disini semuanya laki-laki totalnya 15 orang, kami berbagi tugas rutin setiap hari mulai dari persiapan hingga penyajian. Untuk pendistribusian, para kordinator warga yang mengambil langsung kesini, jadi mereka yang datang," ungkap Fauzan.

Dapur umum ini telah berjalan selama hampir dua minggu, dalam tiap harinya setidaknya dibutuhkan Rp 2 juta untuk mencukupi kebutuhan memasak, baik membeli bahan makanan, bumbu, minyak hingga gas elpiji. Selama kurun waktu tersebut, Fauzan mengungkapkan seringkali kehabisan bahan baku untuk dimasak karena keterbatasan anggaran.

"Seringkali kami juga kehabisan modal untuk belanja, sampai pernah menyerah besok mungkin tidak bisa masak lagi," ujar Fauzan.

Meski demikian, Fauzan dan relawan lainnya tak patah arang, mereka yakin jika niat baik itu pasti akan dibarengi dengan kemudahan.

"Sering kami bingung karena tidak ada lagi yang bisa dimasak, tapi tiba-tiba ada donatur yang memberikan beras, sayur mayur dan lainnya, alhamdulilah selalu ada donatur yang tiba-tiba datang. Padahal kami tidak posting kegiatan ini media sosial, tapi kami merasa diberikan kemudahan sehingga tetap bisa memberikan makanan untuk warga," tutup Fauzan. ( AR/r)