PABRIK SMARTPHONE RAKITAN ILEGAL

jagatnews.com
polisi perlihatkan barang bukti hp rekondisi dan rakitan ilegal. (foto/ polres jakarta utara)

 

Jakarta, Jnews

Ruko yang dijadikan pabrik rakitan handphone ilegal digrebek polisi. Polisi dari Unit Krimsus Satreskrim Polres Metro Jakarta Utara menggeledah 3 unit ruko tempat produksi handphone rakitan dan rekondisi ilegal. Di 3 unit ruko ini produksi perakitan smart phone ini beromzet  12 miliar rupiah. Pabrik rakitan ini juga memperkerjakan pegawai dengan upah di bawah UMR di mana terdapat 3 orang pekerja yang masih di bawah umur.

Penggrebekan dilakukan polisi Senin (2/12) sore, dari Unit Krimsus Satreskrim Polres Jakarta Utara . Sejumlah petugas  menggeledah sejumlah ruko di Kawasan Pantai Indah Kapuk, Penjaringan  Jakarta Utara. Dari 3 ruko yang terbukti melakukan produksi smartphone ilegal ini,  di lantai bawah ruko ini terdapat berbagai bahan baku untuk pengemasan handphone. Sementara di ruangan lainnya tedapat ribuan handphone siap jual yang sudah dikemas dalam kardus. Di lantai 2 ruko  terdapat tempat service handphone bermasalah yang akan dijual kembali sebagai handphone rekondisi.

Yang menarik  di lantai ini terdapat ruang produksi tersembunyi dengan pintu masuk melalui sebuah lemari yang tembus ke unit ruko di sebelahnya  yang merupakan ruang produksi smartphone rakitan ilegal.

Dari lokasi ini, pihak kepolisian menyita 18 ribu lebih handphone dari 70 jenis smartphone rakitan.Pengungkapan praktik ilegal ini berawal dari kecurigaan masyarakat tentang aktifitas bongkar muat handphone.

Rumah produksi yang sudah beroperasi selama 2 tahun ini mempekerjakan 29 pegawai yang direkrut dari luar daerah dengan bayaran upah di bawah UMR.Perharinya  mereka bisa menghasilkan 200 unit smartphone rakitan yang tidak memiliki izin dari Dirjen Pos dan Telekomunikasi,  yang dijual dengan kisaran harga  500 ribu rupiah hingga  1 juta rupiah,  Sehingga bila dijumlahkan maka  omzet pabrik ini sekitar  12 miliar rupiah dalam 2 tahun saja.

Menurut  Kapolres Metro Jakut ,  Kombes Pol Budhi Herdi Susianto pihaknya sudah  menetapkan 1 orang tersangka berinisial NG  yang merupakan bos dari pabrik tersebut.

" Tersangka  melanggar  4 pelanggaran undang-undang berlapis yakni UU tentang Perdagangan , UU Telekomunikasi, UU Perlindungan Konsumen serta UU Ketenagakerjaan, karena  terbukti mempekerjakan 3 orang yang masih di bawah umur." tutur Budi
.

(r/ag)