SABU DALAM BUNGKUS KUACI

jagatnews.com
bungkus kuaci yang digunakan untuk bungkus sabu dan ekstasi (foto istimewa)

 

Jakarta, Jnews

Banyak cara para bandar dan pengedar narkoba menyamarkan dagangan haramnya dari endusan polisi.Salah satunya dengan modus membungkus narkoba berupa sabu dan pil ekstasi dengan bungkus kuaci.

Tim Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat mampu mengendus modus para bandar narkoba ini. Hingga kini masih terus mengembangkan kasus peredaran narkoba kemasan kuaci yang transaksinya dilakukan dengan pola meletakkan barang pesanan dibawah bak sampah atau tiang traffic light di ibukota.

Bahkan dari modus bungkus kuaci ini dua bandar dan pengedar berhasil diringkus di dua tempat berbeda.

Yakni penangkapan ke dua tersangka di Kawasan Bekasi dan Apartemen Kemayoran Jakarta Pusat.Di dua Lokasi ini  polisi  berhasil menagamankan  barang bukti berupa tiga koma tujuh kilogram sabu - sabu dan empat ribu butir lebih pil ekstasi.

Kedua tersangka masing masing berinisial  MBH dan YDS .Mereka merupakan  dua tersangka pengedar dan kurir narkoba .

Keduanya tak bisa berkutik saat digelandang petugas Satres Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat.

Keduanya dihadirkan dalam gelar perkara kasus peredaran narkoba dengan barang bukti tiga koma tujuh kilogram sabu - sabu dan empat ribu butir lebih pil ekstasi serta seratus butir pil heavy five.

Menurut Kabid Humas Polda Metrojaya, Kombes Pol Yusri Yunus,  pola yang dilakukan keduanya demi bisa lolos dari incaran polisi adalah dengan mengemas paket narkoba ke dalam bungkus makanan seperti kuaci,  permen dan kopi.

"Pola antar barang pun mereka lakukan cukup unik, dimana kemasan kuaci berisi narkoba diletakkan di bawah bak sampah atau tiang traffic light di sejumlah ruas jalan di Jakarta." tutur Yusri.

Dari hasil pemeriksaan keduanya, polisi terus mengembangkan kasus tersebut guna mengungkap bandar besar yang saat ini masih diburu.

Atas perbuatannya,  kedua tersangka dijerat pasal 114 undang undang nomor 35 tahun 2008, dengan ancaman hukuman minimal 20 tahun penjara"

tutur Budi
.

(r/ag)